May 31, 2016

KESAN TENTANG BNI, YANG MELAYANI TANPA MENINGGALKAN LOYALITAS DAN NURANI


Terhadap BNI, saya memiliki kesan pribadi tersendiri. Awal menjadi nasabah BNI adalah sekitar empat tahun lalu, saya sebagai seorang perantau yang baru tiba di ibukota dengan alasan mendapat pekerjaan. Dengan modal seadanya sekadar untuk makan dan biaya tempat tinggal, saya sampai di Jakarta dengan mengharap waktu penerimaan gaji segera datang.

Namun perusahaan mewajibkan untuk memiliki rekening bank BNI untuk penerimaan gaji. Sementara saya sebagai seseorang dengan isi kantong terbatas yang tidak memiliki rekening BNI kemudian sampai di permasalahan runyam yang jalan keluarnya terbentur satu sama lain.

Uang yang ada pada saya hanya sekitar sekian ratus ribu - lupa jumlah tepatnya yang jelas tidak sampai angka satu juta setelah melunasi biaya kos selama sebulan. Sementara pembukaan rekening di BNI mensyaratkan batas setoran awal senilai 500,000 waktu itu. Disinilah permasalahan menjadi pelik, saya butuh gaji untuk keperluan hidup sementara masa penerimaan gaji masih sekitar 2 minggu lagi. Jika menunda membuka rekening, ada sistem jelas dalam perusahaan yang tidak mungkin saya negosiasikan lebih lama lagi. Batas waktu untuk memiliki nomer rekening BNI hanya sampai pada beberapa hari kedepan atau gaji saya akan dibayarkan terlambat. Saya yang hitungannya masih pendatang baru dalam dunia kerja, sibuk berhitung dengan nasib.

Pasalnya selain butuh gaji masuk ke rekening, saya juga butuh uang saya yang sekian ratus ribu tersebut. Mengapa? Ya bagaimanapun saya manusia biasa yang butuh makan dan minum hingga dua minggu ke depan, perlu mempersiapkan biaya transportasi jika kurikulum training perusahaan menugaskan untuk mempelajari anak-anak perusahaannya yang tersebar di beberapa bagian ibu kota. Pendek kata, uang di kantong saya hanya cukup dipergunakan untuk bertahan hidup dua minggu ke depan itupun jika tidak ada pengeluaran mendadak. Mengandalkan pinjaman dari teman-teman tentu tidak mungkin, satu sisi mungkin mereka memiliki permasalahan yang sama dengan saya meskipun mereka tidak bilang-bilang atau kondisi perekonomian mereka juga sedang mepet, disisi lain saya kurang enak hati jika harus merepotkan orang lain dan mengharuskan mereka untuk terlibat dalam permasalahan saya.

Pusing sih pastinya, karena pilihan apapun kok ya serba dilema. Memikirkan pilihan mana yang ingin diambil dan resiko yang sama-sama nggak enak buat saya jika memilih salah satu dan mengabaikan yang lain.

Yang terjadi berikutnya kalau boleh jujur, diluar perkiraan. Permasalahan saya akhirnya terselesaikan dengan cara yang tidak terduga, iya demikian tidak terduganya sampai untuk beberapa saat saya melongo karena tidak percaya pada solusi yang tahu-tahu muncul. Solusi hadir dalam perantara mbak-mbak bagian pelayanan customer service di kantor cabang BNI yang jadi satu gedung dengan kantor pusat tempat saya pada saat awal diterima kerja. Mbak customer service menampung keluhan kami dengan ramah, tanpa pakai nada judes atau pandangan sinis meremehkan kepada saya dan beberapa orang teman yang istilahnya modal nekat mengadu nasib di ibu kota. Memang mbak customer service tidak lantas memberikan janji-janji pemecahan masalah, hanya menampung dilema yang kami alami dengan senyum pengertian dan berkata bahwa akan membantu kami sebisa mungkin.

Sekitar dua hari kemudian, kami menerima berita melegakan bahwa petinggi BNI cabang terkait mengizinkan kami membuka rekening dengan setoran awal nol rupiah. Beneran nol! Tentunya dengan disertai surat pengantar dari pihak berwenang perusahaan. Betapa super senang mendengar saking baik hatinya keputusan yang diberikan dan sampai kepada kami. Masalah kami selesai dan teratasi dengan begitu bikin haru. Apalah yang lebih menyentuh hati para perantauan bermodal nekat padahal seret dana seperti kami selain kebaikan hati yang penuh maklum seperti kejadian ini? Saat itu jika boleh jujur, nyaris tidak ada. Kejadian ini adalah kesan pertama saya yang mendalam tentang BNI.


Setelah beberapa bulan di ibu kota, saya mendapat mutasi untuk penempatan kerja di kota lain yang tidak jauh dari domisili. Kebetulan di kota tersebut ada beberapa teman baik yang tinggal dan bekerja disana.

Suatu waktu terpicu kelaparan saat malam hari membuat saya dan seorang teman baik yang akhirnya punya waktu jalan bareng ditengah kesibukan masing-masing, berkunjung ke sebuah warung bakso. Saya tidak bertanya alasan teman saya memilih warung itu diantara sekian banyak pilihan. Saya cuma percaya kalau baksonya enak, karena teman saya ini juga penggemar makanan enak tidak beda dengan saya.

Karena lapar, begitu bakso dihidangkan kami langsung makan. Memang kuah bakso yang hangat dengan sambal yang sedap cocok untuk musim penghujan yang cenderung dingin dan berangin. Mungkin karena benar-benar lapar, jadi bakso terasa enak saja. Namun, kalau dipikir-pikir lagi tidak ada istimewanya dibanding hidangan bakso dari warung lain. Ya enak, cuma tidak istimewa jika dibandingkan dengan warung kebanyakan. Pengunjungnya juga biasa, bukan yang kelewat ramai. Pun bukan jenis warung bakso dengan inovasi aneka isian atau rupa yang biasanya populer di media sosial. Pelayanannya ramah, pemilik warung pun seolah sudah kenal lama dengan si teman. Saya menduga, warung bakso ini adalah langganan tempat makan si teman saya ini.

Begitu pulang, saya tidak tahan untuk bertanya, "Kamu sering makan disitu ya?" saya mengerutkan dahi heran, "kok yang punya warung kayak sudah kenal dekat gitu?"
Teman saya mikir sejenak, "Lumayan sih, beliaunya tadi nasabah aku"
Saya mengangguk-angguk, teman baik saya ini bekerja di BNI sejak fresh graduate. Beberapa kali makan ramai-ramai pun dia yang memilihkan tempat, jika kami sedang kebingungan dan pengin mencoba tempat makan baru atau toko yang berhubungan dengan sesuatu yang harus kami beli. Sering sapaan ramah di tempat yang dia pilihkan tersebut selalu berujung dengan penjelasan yang sama, pemilik tempat makan atau toko yang dia rekomendasikan adalah nasabahnya. Saya salut, pada loyalitas teman baik saya itu dengan pekerjaannya. Pun juga membina hubungan yang baik dengan para nasabah di luar jam kerja. Tapi lagi-lagi saya menduga itu karena memang karakter teman saya yang memang baik hati.

Beberapa minggu kemudian, saat berkunjung ke kota dimana adik perempuan saya melanjutkan pendidikan perguruan tinggi. Saya berkenalan dengan teman satu kos adik saya yang sudah bekerja. Kami jalan-jalan bertiga dan mencicipi makanan yang terkenal di kota tersebut. Seolah deja vu, kejadian yang sama berulang. Setiap kali mampir ke sebuah tempat makan atau tempat ngobrol anak muda yang cukup banyak pengunjung, baik karyawan ataupun pemilik yang ada di tempat seolah sudah kenal lama dengan teman baru saya tersebut. Penasaran, saya bertanya kepada si teman baru, "Kamu langganan mampir disini?"
"Emm lumayan juga sih kalau pengin makan menu zz," sahut si teman baru, menyebutkan nama salah satu hidangan andalan tempat makan tersebut,  "nasabah gue sih memang, makanya kenal"
"Nasabah dimana?" tanya saya lebih lanjut, mudah-mudahan dia tidak menilai saya kepo overdosis.
"BNI, Nin." dia menjawab singkat.

Menerima jawaban itu, saya terdiam.
Saya memang belum mengenal teman satu kos adik saya ini dengan baik, saya hanya kenal dia dari cerita adik saya. Pun saya sendiri baru hitungan sekian jam mengenal dia, sehingga belum tahu seperti apa sifatnya dari sudut pandang saya. Namun ada gambaran yang sama antara si teman baru dengan teman baik saya yang sama-sama bekerja di BNI, mereka menjalin komunikasi yang baik dengan para nasabahnya bahkan diluar jam kerja. Saya juga kurang tahu apakah ini karena prosedur standar yang diterapkan BNI yang berhubungan dengan cara maintenance nasabah di luar jam kerja atau mungkin mereka memiliki standar rekrutmen untuk menerima orang-orang dengan dedikasi dan loyalitas tinggi serta nurani yang mampu merangkul para nasabah?

Namun sebagai orang yang melihat dari permukaan luar BNI, iya saya akui saya terkesan. Lebih dari sekadar kesan mengenai iklannya yang menarik atau cepatnya feedback pertanyaan yang dilayangkan oleh nasabah melalui akun media sosial resminya. Lebih dari itu, BNI adalah tentang kesan personal yang melekat kuat oleh para karyawannya yang bekerja membangun BNI dari dalam ke luar. Kesan yang selain penuh loyalitas, namun sekali lagi juga sarat dengan nurani.

Selamat hari jadi yang ke 70, BNI. Jangan berhenti menumbuhkan kesan mendalam pada negeri.

May 29, 2016

MEMBELI PENGALAMAN SAAT LIBURAN DI BALI



Siapa sih yang tidak kenal Bali? Ada gitu? Kayaknya hampir nggak ada ya yang nggak kenal atau paling nggak pernah dengar soal Pulau ini. Pulau dewata yang legendaris dan menjadi salah satu tujuan menarik untuk mengisi liburan oleh wisatawan lokal maupun internasional. Bahkan sedihnya nih, banyak turis mancanegara yang lebih kenal sama Bali daripada sama Indonesia.

Oh please. Mungkin mereka nggak cek ricek peta dulu sebelum datang dan main ombak di Bali ya. Atau mungkin negara kita yang promosi tujuan wisatanya harus digencarkan?

Namun Bali memang istimewa, tidak melulu menawarkan pantai cantik dan keindahan sunset juga sunrise, tapi lebih dari itu. Bali yang masih kental dengan budaya yang tidak tergerus arus modernisasi serta aspek seni yang demikian dihargai.

Ingin liburan ke Bali tapi masih bingung harus mulai dari mana? Nah beberapa tempat dan aktivitas ini layak coba kalau teman-teman berencana ingin ke Bali dan ingin mendapatkan pengalaman yang berkesan:

3 Hal Yang Sayang untuk Dilewatkan di Bali

#1 Pertunjukan Devdan

Pertunjukan Devdan ini adalah salah satu yang tidak boleh kita lewatkan di Bali, kita akan dikenalkan terhadap tradisi kaya warna dan tarian dari berbagai wilayah Indonesia dari Papua hingga Jawa, Sumatera dan Bali. Pertunjukkan ini berlangsung selama 90 menit dan merupakan campuran dari tarian dan acrobat yang benar-benar menghibur siapapun yang berwisata ke Pulau Dewata ini.

#2 Sisihkan waktu sore hari untuk menikmati matahari terbenam dengan tari kecak di Uluwatu
Sayang banget kalau melewatkan keunikan ritual tari kecak. Tari ini diselenggarakan di pada saat sore hari dengan tanpa musik, hanya akapela dengan irama yang berasal dari penarinya.

#3 Retret di desa Munduk
Desa Munduk terletak di pegunungan yang sangat sejuk udaranya, pada masa colonial desa ini digunakan untuk mendirikan markas penjajah Belanda. Di pegunungan sekitar Desa Munduk terdapat tanaman kopi, vanilla, coklat dan tanaman lainnya. Munduk saat ini dikenal sebagai tempat retret yang menarik untuk para pecinta alam.

Nah, yang diatas adalah sebagai contoh tempat-tempat yang menawarkan pengalaman baru kepada kita, sayang banget lho untuk kita lewatkan ketika berkunjung ke Pulau Bali. Cuma contoh, karena tentu ada banyak tempat yang bisa kunjungi, makanan untuk kita cicipi dan pengalaman baru untuk kita saksikan dan rasakan di Bali. Rasanya tidak cukup hanya berkunjung 1-2 hari saja.

Jika bingung mencari referensi tempat menginap, jangan dulu menjatuhkan pilihan di hotel. Banyak villa di Bali murah dan bagus yang bisa menjadi alternatif penginapan kita selama di Bali. Psstt… bahkan harga kurang dari 1 juta untuk sewa villa sudah bisa kita dapatkan villa yang oke dengan private pool lho, cocok untuk acara liburan bersama keluarga dan teman-teman tentunya ya.

May 27, 2016

MAU BERBELANJA ONLINE AMAN? INI TIPS ALA SAYA


Saat ini, kenyataannya banyak lho alasan untuk belanja online. Pasalnya segala sesuatu sudah bisa kita temukan dijual secara online dengan harga yang bersaing, bahkan seringkali malah lebih murah dari toko offline. Namun kadang, untuk berbelanja online kita jadi pikir ulang karena alasan yang pasti menjadi pertimbangan semua orang : keamanan.

Saya senang belanja online karena faktor praktisnya itu, jadi berikut ini tips sederhana ala saya untuk berbelanja online untuk menghindari kejadian tidak menyenangkan:

#1 Belanja di website yang sudah punya nama besar
Untuk mencari sebuah produk untuk kita beli, saat menjelajahi mesin pencari pilihlah dari situs belanja online yang sudah memiliki nama besar. Situs yang seperti ini telah memiliki banyak referensi dari customer-nya. Jadi, kalau kita ingin berbelanja melalui situs-situs tersebut tidak perlu khawatir barang tidak dikirim.

Jika situs tersebut masih baru, atau malah hanya berupa blog personal maka nyalakan lampu kewaspadaan kita. Nah cek dulu testimonial dari para pembeli yang bisa kita dapatkan melalui mesin pencari.

#2 Gunakan pc, laptop atau gadget pribadi untuk berbelanja online
Sebaiknya jangan berbelanja online melalui pc, laptop atau gadget lain yang digunakan bersama untuk berbelanja online. Contohnya gadget milik teman atau bahkan pc yang kita pakai dari warnet atau free use contohnya tempat yang menyediakan pc dengan sambungan internet untuk dapat digunakan para customer yang berkunjung.

#3 Gunakan sistem pembayaran yang aman
Jangan pernah membeli apapun dari situs belanja online yang tidak memiliki sistem pembayaran aman dengan menggunakan kartu debit maupun kredit kita. Mending jangan deh. Apalagi kita malah menyimpan data-data alat pembayaran kita di situs tersebut. Sasaran empuk banget dong kartu-kartu kita untuk dibobol. Jadi gunakan sistem pembayaran yang aman seperti transfer via ATM misalnya, kalau mager dan maunya yang praktis-praktis aja lebih oke kalau kita melakukan transaksi melalui alat pembayaran online. Alat pembayaran online lebih aman karena menjaga privacy kita, tidak beresiko kebobolan data kartu pembayaran yang terhubung dengan rekening bank kita karena sistem keamanannya dengan layanan keamanan berlapis dan memastikan proses berbelanja online kita benar-benar aman.

Alat pembayaran online juga meringkas transaksi belanja online kita dengan jauh lebih sederhanan, kita tidak perlu mengisi informasi tagihan setiap saat akan menyelesaikan proses belanja online dengan check out dan pembayaran, hanya terhubung dengan alat pembayaran online maka satu klik dapat langsung mengantarkan kita ke pembayaran. Tidak perlu deh mengisi form tagihan yang rempong itu.



May 11, 2016

BLOG CUSTOMIZED : MONILANDO'S

Beberapa bulan lalu saya bertemu teman dekat serta teman blog saya, Monik yang pengin merubah keseluruhan desain blognya. Dengan skill saya yang masih seadanya dalam coding dan desain, saya mencoba menerjemahkan keinginan Monik melalui template blognya yang baru. Sayangnya saya tidak menyimpan template Monik sebelum didandani. Tapi dia suka dengan hasil akhirnya seperti yang saya tampilkan dalam posting ini.

Monik mau 'baju baru' untuk blognya yang memenuhi kriteria :
- clean
- dasar putih
- warna desainnnya dominan putih dan jika ada warna lain, maka orange lah warna yang dipilih
- ada tagline blog: life, books, traveling, socmed yang merupakan niche blog Monilando's dan jika diklik akan mengarahkan kita ke label yang berkaitan dengan tagline. 
- Note : untuk widget dan font dalam blog Monik memilihnya berdasarkan font dan widget yang dia sukai.


Mengerjakan desain ini selain kesulitan dalam coding bagi saya juga kesulitan untuk mencocokkan waktu komunikasi kami berdua karena sama-sama ada kesibukan lain. Saya juga senang banget karena Monik sabarnya banget-banget, nggak memburu-buru saya dalam penyelesaian desain. Namun ketika ada yang kurang klik sejauh itu saya berusaha memperbaiki baju blog hingga sesuai selera Monik. Begitu akhirnya selesaih fiuh saya lega karena dia suka :)

Yang mau lihat blog Monik secara lengkap, bisa kunjungi : www.monilando.com

Tertarik merubah template blog dengan customize sesuai keinginan sehingga blog teman-teman jadi semakin personal? Bisa hubungi saya via email di anindyarahadi@gmail.com , masih tanya-tanya juga nggak apa-apa kok ;)

.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...