Featured Post

REVIEW: DITSY NIGHTGOWN - DASTER RASA GAMIS

December 20, 2011

saya tulis ini ketika saya sedang ada ditengah puncak kejengkelan. saya kesal.
saya baru ngobrol dengan salah seorang teman seangkatan saya. dia memang beberapa kali cerita dan menanyakan pendapat saya akan masalah yang sedang dia hadapi. meskipun saya ngasih sarannya sambil marah-marah karena kesal.
menurut saya dia salah. salah. karena itu saya kesal sama dia.
dia ngeblog karena persuasi saya. karena saya lihat dia suka nulis, jadi saya kenalkan dia ke dunia itu.
jadi si teman bilang kalau dia suka sama seorang cewek yang dia kenal dari dunia maya. si cewek itu balas jawab suka juga. tapi karena si teman ini ngakunya cuma niat bilang suka dan nggak mau berlanjut kemana-mana lagi maka... yasudah begitu saja selesai.
si cewek bingung dan sedih. dia stalking2 semua cewek yang dia rasa dekat dengan si cowok itu - yang adalah si teman saya.

dia mulai follow blog saya, add fb saya (sekarang sudah saya remove dua-duanya. dia dan si teman saya karena saya kesal). saya minta teman saya itu menyelesaikan masalah mereka berdua sendiri setelah sebelumnya mengomeli dia karena ketidak konsistennya. saya rasa sepertinya dia orang yang merasa kehilangan tantangan ketika terlalu mudah mendapatkan sesuatu. saya mulai kesal karena si sahabat saya deva juga rupanya keikut di stalk...
ini sudah keterlaluan.
dimata saya teman saya itu salah.
dan mungkin cewek itu karena dia kesana-kemarin curhat mengenai hubungan mereka, membuat masalah melebar kemana-mana.

teman saya lapor dia sudah menelepon cewek itu dan membereskan semuanya. tapi rupanya masalah tidak berhenti disitu. entah apa yang cewek itu bilang, si teman mengeluh bahwa sahabat cewek itu sampek 'menginterogasi' dia. saya rasa itu bukan salah si cewek (dalam konteks ini) tidak ada yang salah dengan mencurhati sahabatnya bukan? tapi saya rasa yang salah adalah si sahabat ceweknya.
dalam menyikapi sebuah curhatan ada dua hal... ikut campur atau hanya sekedar mendengarkan dan menyarankan pemecahan.
tapi sampai disitu saya tetap diam. cuma jadi pendengar ceritanya si teman cowok saya itu. dan dia merasa tidak enak karena saya sudah ikutan keseret-seret.
entah dengan pengecualian kalau cewek itu juga menyetujui perbuatan si sahabatnya itu nah kalau itu sih beda lagi. itu namanya: beraninya main keroyokan.

saya lama gak ngobrol lagi sama si teman karena saya sibuk dan gak punya banyak waktu untuk in touch dengan semua orang via chat. saya cuma ngendon di jendela dan situs muka buku. membalas mention di twitter kemudian sudah.

terus sekalinya saya punya waktu, saya ngobrol pas si teman ini ada. dia bilang saya dimasukin ke cerpennya sahabat si cewek sampek di posting di blognya segala. well bukan saya sih, tepatnya mereka berdua tapi ada saya nyempil disitu.
dan tahu nggak apaaaa....?
dia menduga saya sudah ada pasangan tapi tetep kasih-kasih harapan gitu sama si teman cowok seangkatan saya ini. gilak apa!
gilak apaaaaaaaaaaaaaaaa!
saya kesal sekali.

cewek itu sewaktu pertama dia add saya dimuka buku sudah saya sapa baik-baik.. dia follow saya di blog saya komenin blognya, saya kunjungi balik. tapi dia nampaknya gak ada niat baik dengan berinteraksi dengan saya. dia gak nanya kesaya baik-baik, dia berasumsi terus-terusan sampai ada deh cerpen itu yang buah hasil spekulasi dia yang diceritakan ke si sahabatnya. nah sahabatnya juga punya spekulasi sendiri.
terus jadilah cerpen itu. si cewek ini juga bertingkah laksana abg dengan memajak cerpen itu di blognya. apa coba maksudnya?
cerpen yang kata saya berat sebelah. kok dia bangga ya? dalam pandangan saya keduanya salah. tapi di cerpen itu sepenuhnya dia memblame teman saya (oke awal masalah memang dari dia) dan membela berani mati si cewek itu.
saya dikeluhkan seperti yang tadi saya bilang. seorang cewek teman sekolah dia yang meskipun sudah punya pasangan tapi ngasih harapan sama si teman yang mana adalah anggapan kosong. saya kenal si teman sudah lama. jadi dimana letak salahnya kalau saya ngomong sama dia?
terlebih, saya sudah tahu bagaimana sifat si teman itu dan tidak mungkin saya tertarik lebih dari teman kepada dia.

kepala saya panas. marah. saya paling sebal kalau keseret-seret masalah yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan saya. jadi saya marah ke cewek itu di postingannya yang memuat cerpen terbodoh di dunia itu.
sudahlah. jauh-jauh dari saya. saya gak ada respek sama sekali ke orang-orang penuh dengan dugaan aneh yang tidak mau konfirmasi tapi hidup dengan dugaan itu.
saya masih cukup waras untuk gak tepe-tepe ke teman sendiri. tanpa tebar pesona pun saya sudah menarik dan mempesona. jadi maaf mengecewakanmu ya.

ini komentar pedas saya.
serius ya ini cerpen paling childish yang pernah saya baca. gak cuma karena asumsi2 nggak matengnya.... tapi juga saking karena diambil dari kisah nyata.spekulasi.spekulasi.spekulasi.yang saya sangat herankan adalah ketiadaan konfirmasi. ah kau nak...benar bahwa usia sama sekali tidak bisa jadi tolak ukur kedewasaan.entah mr.r yang sudah saya damprat karena saya jadi terbawa2 ke masalah kalian. atau tulisan ini yang bikin saya gerah. dan kamu yang seolah stalking saya. gak ada yang ngasih harapan ke siapa2. bedanya cuma orang yg kenal didunia nyata selama bertahun2 dan orang yang cuma kenal beberapa bulan cuma dari internet.
kalian sama2 childish. jadi kenapa gak selesaikan masalah kalian berdua sendiri terus gak nyeret2 orang lain.

grow up, you two.

masih marah. semoga reda setelah menulis ini.

3 comments:

  1. dan saya?
    saya tertawa terbahak bahak membaca postinganmu maaak...!!!
    bwahahahaahaaaaaa, lucu lucu banget sih merekaaaaaa XDD

    eh ada beberapa tipe curhaters. kadang ada orang curhat yang sangat melemahkan diri dengan tujuan agar orang yang dicurhati melakukan "sesuatu" untuknya. sepertinya si cewek tipe yang seperti itu maak.

    ReplyDelete
  2. ada-ada saja sikap orang yg bikin orang lain jengkel. saya juga kesal baca tulisanmu ini. huh

    ReplyDelete
  3. Wadduh. kok saya bisa yah habis ngebaca postingan penuh emosi ini... wow ninda wow!

    ReplyDelete